alfin:b:log

Penelitian Indonesia

Posted by: alfin.bi on: March 9, 2007

Saya menemukan artikel tentang terpuruknya penelitian di Indonesia di Tempo Interaktif (via biho)

Geliat para peneliti Indonesia ternyata tertinggal jauh dengan negara lain, termasuk Malaysia, tetangga yang pernah menimba ilmu ke negara ini. Kondisi itu kentara jelas dari jumlah laporan karya ilmiah (paper) yang dihasilkan dan diakui lewat publikasi jurnal ilmiah internasional.

Tapi jangan lupa, kita juga punya yang seperti ini:

Seorang peneliti asal Indonesia, Dr Fenny Dwivany (35), peraih PhD di bidang biologi molekuler dari University of Melbourne, Australia, berhasil mendapatkan penghargaan bea siswa atau fellowship international UNESCO-L’OREAL For Women In Science menyisihkan 350 pesaing dari 50 negara sedunia. — Republika

dan juga

Nutrisi Saputra (NS), formula ajaib yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman pangan, kemarin diperkenalkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Karena sangat tertarik, SBY sempat mencetuskan keinginan untuk mengusulkan Umar Hasan Saputra, penemu NS, sebagai penerima penghargaan Nobel. Dengan catatan, formula tersebut benar-benar mampu mewujudkan swasembada beras pada 2008 dan menjadikan Indonesia lumbung beras pada 2009.

atau yang ini…

Dari sebuah ruko sewaan di Tangerang, terciptalah teknologi berkelas dunia. Dr. Warsito, 39 tahun, sang penemu, berhasil menjungkirkan keyakinan bahwa teknologi canggih hanya bisa diciptakan di pusat riset maju. Temuan made in ruko itu telah membuat Warsito muncul di hampir semua jurnal ilmiah di dunia sepanjang Maret lalu.

Teknologi yang ditemukan pemegang enam dokumen paten ini adalah teknologi tomografi medan listrik tiga dimensi atau electrical capacitance volume tomography (ECVT). Inilah penolong para pasien miskin bila mereka harus mengecek kesehatan dengan pemindai tubuh.

Dengan ECVT, proses pemindaian tubuh bakal lebih murah dibanding CT Scan dan MRI. Caranya juga simpel. Tak perlu masuk tabung seperti pada MRI. Pasien cukup dilewatkan di pintu detektor. Akurasinya, jangan tanya. Sementara MRI menghasilkan gambar dua dimensi, citra tomografi ini tiga dimensi.

Banyak yang bisa kita banggakan, right? meskipun kita perlu lebih banyak lagi yang seperti ini ;)

6 Responses to "Penelitian Indonesia"

Gimana yach ….
Jadi peneliti memang susah …
Harus ada dukungan dari negara

yah, kalo nunggu pemerintah kapan majunya?!? saya pikir individual/team effort lebih dibutuhkan, tanpa nunggu siapasiapa, jalan sendiri aja, mandiri gt, gimana caranya? ya kreatif dikit lah :D
btw saya sndiri blm ngasilin apa2 sih, makanya anonim ajah, untung Pak alfin ini baek,boleh komentar anonim :p

Emang hanya orang2 luar biasa yang mampu untuk tetap menghasilkan sesuatu dengan sedikit dukungan dana n fasilitas. Makanya di Indonesia masih sedikit karyanya, sebab orang luar biasa itu kan gak banyak. Gw juga pengen jadi orang luar biasa, tapi gimana caranya supaya kreatif ya? :D

gimana supaya bisa kreatif? gw blom bisa ngasih saran untuk hal ini, tapi barangkali post saya sebelumnya(the sex and cash theory) bisa membantu :p. Jangan lupa baca manifesto How To Be Creative-nya jg
Kalo mo mengandalkan fasilitas untuk berkarya, jangan lupa baca dulu yang ini dan terutama artikel ini

Iseng nih… MRI menghasilkan citra 2D?? Yang saya tahu baik MRI maupun CT cuma menghasilkan angka-angka yang dapat diolah menjadi citra 3 dimensi. CMIIW.

Kayaknya sih kamu bener Bib :p
http://en.wikipedia.org/wiki/MRI
[dr yg asl ngtip]

Leave a Reply